Selasa, 28 April 2009
Sebagian besar wilayah Indonesia adalah lautan, sehingga dengan demikian secara alamiah bangsa Indonesia merupakan bangsa bahari. Hal ini ditambah lagi dengan letak wilayah Indonesia yang strategis diwilayah tropis. Hamparan laut yang luas merupakan suatu potensi bagi bangsa Indonesia untuk mengembangkan sumberdaya laut yang memiliki keragaman baik baik sumberdaya hayati maupun sumberdaya lainnya.
Sebagai suatu bangsa bahari yang memiliki wilayah laut yang luas dan dengan ribuan pulau besar dan kecil yang tersebar didalamnya, maka derajat keberhasilan bangsa Indonesia juga ditentukan dalam memanfaatkan dan mengelola wilayah laut yang luas tersebut.
Keunikan dan keindahan serta keanekaragaman kehidupan bawah laut dari kepulauan Indonesia yang membentang luas di cakrawala khatulistiwa masih banyak menyimpan misteri dan tantangan terhadap potensinya.
Salah satu dari potensi tersebut atau sumberdaya hayati yang tak ternilai harganya dari segi ekonomi atau ekologinya adalah sumberdaya terumbu karang, apabila sumberdaya terumbu karang ini dikaitakn dengan pengembangan wisata bahari mempunyai andil yang sangat besar. Karena keberadaan terumbu karang tersebut sangat penting dalam pengembangan berbagai sektor termasuk sektor pariwisata.
Khusus mengenai terumbu karang, Indonesia dikenal sebagai pusat distribusi terumbu karang untuk seluruh Indo-Pasifik. Indonesia memiliki areal terumbu karang seluas 60.000 km2 lebih. Sejauh ini telah tercatat kurang lebih 354 jenis karang yang termasuk kedalam 75 marga.
Kehidupan di Terumbu Karang
Hutan bakau, padang lamun dan terumbu karang merupakan tiga eksosistim penting di daerah pesisir. Hutan bakau dan padang lamun dan terumbu karang berperan penting dalam melindungi pantai dari ancaman abrasi dan erosi serta tempat pemijahan bagi hewan-hewan penghuni laut lainnya. Terumbu karang merupakan rumah bagi banyak mahkluk hidup laut. Diperkirakan lebih dari 3.000 spesies dapt dijumpai pada terumbu karang yang hidup di Asia Tenggara. Terumbu karang lebih banyak mengandung hewan vetebrata. Beberapa jenis ikan seperti ikan kepe-kepe dan betol menghabiskan seluruh waktunya di terumbu karang, sedangkan ikan lain seperti ikan hiu atau ikan kuwe lebih banyak menggunakan waktunya di terumbu karang untuk mencari makan. Udang lobster, ikan scorpion dan beberapa jenis ikan karang lainnya diterumbu karang bagi mereka adalah sebagai tempat bersarang dan memijah. Terumbu karang yang beraneka ragam bentuknya tersebut memberikan tempat persembunyian yang baik bagi iakn. Di situ hidup banyak jenis ikan yang warnanya indah. Indonesia memiliki lebih dari 253 jenis ikan hias laut. Bagi masyarakat pesisir terumbu karang memberiakn manfaat yang besar , selain mencegah bahay abrasi mereka juga memerlukan ikan, kima kepiting dan udang barong yang hidup di dalam terumbu karang sebagai sumber makan dan mata pencaharian mereka.
Sumber :http://www.geocities.com/minangbahari/coremap/mengenali.html
Mangrove berasal dari kata mangue/mangal (Portugish) dan grove (English). Secara umum hutan mangrove dapat didefinisikan sebagai suatu tipe ekosistem hutan yang tumbuh di suatu daerah pasang surut (pantai, laguna, muara sungai) yang tergenang pasang dan bebas pada saat air laut surut dan komunitas tumbuhannya mempunyai toleransi terhadap garam (salinity) air laut.
Tumbuhan yang hidup di ekosistem mangrove adalah tumbuhan yang bersifat halophyte, atau mempunyai toleransi yang tinggi terhadap tingkat keasinan (salinity) air laut dan pada umumnya bersifat alkalin.
Hutan mangrove di Indonesia sering juga disebut hutan bakau. Tetapi istilah ini sebenarnya kurang tepat karena bakau (rhizophora) adalah salah satu family tumbuhan yang sering ditemukan dalam ekosistem hutan mangrove.
Ada apa di hutan Mangrove ?
Flora ekosistem hutan mangrove sangat bervariasi, tetapi pada umumnya adalah flora yang bersifat halofit. Jenis-jenis tumbuhan yang hidup di hutan mangrove antara lain adalah :
- Avicenniaceae (api-api, black mangrove, dll)
- Combretaceae (teruntum, white mangrove, zaragoza mangrove, dll)
- Arecaceae (nypa, palem rawa, dll)
- Rhizophoraceae (bakau, red mangrove, dll)
- Lythraceae (sonneratia, dll)
Ekosistem hutan mangrove adalah salah satu ekosistem hutan yang sangat kaya akan flora dan faunanya.
Mengapa Mangrove?
Kegunaan hutan mangrove sangat banyak. Beberapa diantaranya dapat disebutkan dibawah ini :
- Sebagai peredam gelombang dan angin, pelindung dari abrasi dan pengikisan pantai oleh air laut, penahan intrusi air laut ke darat, penahan lumpur dan perangkap sedimen.
- Sebagai penghasil sejumlah besar detritus bagi plankton yang merupakan sumber makanan utama biota laut.
- Sebagai daerah asuhan (nursery grounds), tempat mencari makan (feeding grounds), dan daerah pemijahan (spawning grounds) berbagai jenis ikan, udang dan biota laut lainnya.
- Sebagai habitat bagi beberapa satwa liar, seperti burung, reptilia (biawak, ular), dan mamalia (monyet).
- Sebagai penghasil kayu konstruksi, kayu bakar, bahan baku arang, dan bahan baku kertas.
- Sebagai tempat ekowisata.
Sebagai ekosistem hutan yang cukup unik, kegunaan hutan mangrove tidak terlepas dari letaknya antara daratan dan laut. Letak itulah yang membuat hutan mangrove berfungsi utama sebagai penahan abrasi air laut dan pengikisan pantai oleh air laut. Sebagai contoh, abrasi air laut telah menyebabkan sekitar 5-10 desa di Indramayu dalam 20 tahun terakhir hilang. Belum lagi data tahun 2007 yang mengungkapkan sekitar 42,6 km daratan pantai dari 114 km garis pantai di Indramayu juga telah tergerus abrasi.
Selasa, 14 April 2009
Salah Siapa?
Sekitar tahun 1932-1933 dibentuk situ (danau) yang pada awalnya adalah sebagai waduk yang berfungsi sebagai tempat penampungan air hujan dan untuk perairan ladang pertanian disekitarnya dengan luas 31 ha. Kapasitas penyimpanannya mencapai 2,1 juta meter kubik. Ditengah-tengah situ terdapat sebuah hpulau kecil yanng menyambung sampai ke tepi daratan seluas kurang lebih 1,5 ha yang bernama Pulau Situ Gintung.Tetapi semenjak tahun 1970an kawasan pulau dan salah satu tepi situ gintung dimanfaatkan sebagai tempat wisata alam dan perairan.
Bencana jebolnya tanggul Situ Gintung yang terjadi pada 27 Maret 2009 lalu memakan banyak sekali korban, sekitar 100 orang warga sekitar tewas karena bencana ini. Penyebab jebolnya tanggul Situ Gintung sendiri masih menjadi teka-teki sampai saat ini, kejadian ini merupakan bancana alam atau memang karena kesalahan manusia ?
Tetapi dari fakta-fakta yang ada kita bisa melihat bahwa kejadian ini merupakan kesalahan manusia. Karena kurangnya perhatian masyarakat sekitar terhadap keadaan Situ Gintung. Bergesernya fungsi utama Situ Gintung juga menjadi salah satu penyebabnya, yang awalnya Situ Gintung berfungsi untuk sistem pengairan lalu berubah menjadi tempat wisata yang kemudian banyak dibangun bangunan lainnya disekitar danau, pembangunan perumahan disekitar atau didekat tanggul harus dihentikan karena jika tidak kejadian seperti ini akan terulang lagi. Lahan di sekitar situ gintung yang berubah fungsi menjadi perumahan membuat daya dukung tidak memadai. Disini terlihat kesalahan manusia dalam pemanfaatan sumber daya yang ada. Karena ingin melestarikan tempat wisata Situ Gintung masyarakat lupa akan fungsi utama Situ Gintung yaitu untuk sistem irigasi.Situ itu bisa jebol karena tekanan yang dibuat oleh manusia sudah melebihi daya dukung lingkungan. Selain karena kurangnya perhatian dari masyarakat sekitar ternyata Situ Gintung juga kurang mendapat perhatian dari pemerintah khususnya dalam perawatan infrastruktur.
Sebenarnya untuk perawatan infrastruktur tanggul bukan lagi masalah dan tidak boleh ditunda jika menunjukkan akan timbul bencana dan kalau sifatnya mengancam kepentingan nyawa,, sudah tidak ada keterbatasan dan menjadi prioritas.